Langsung ke konten utama

Life after Val's day

Halo, apa kabar? Ini H+1 setelah Hari Valentine. Tidak ada yang memberi coklat tahun ini. Jadi flashback, tahun lalu harus nangis-nangis baru dibeliin coklat batang dari Indom*ret. Tapi tahun ini, hari Valentine juga dijalani seperti biasanya, meskipun tanpa coklat atau bunga. Toh, hari itu juga berlalu. Tanpa sakit gigi akibat kebanyakan coklat mungkin.

Setelah satu bulan bisa memproses kejadian tidak mengenakkan yang terjadi di akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026, di pertengahan Februari ini hati aku baru saja terketuk untuk melepaskan emosi kalut yang sudah kutahan. Meskipun masih ada residu yang tersisa, tapi aku mungkin akan melepaskan dengan cara yang lain daripada dengan menangis. Salah satunya adalah journaling ini. Sudah lama, bukan?

Flashback di 11 September 2024. Aku pernah menulis 3 poin yang menurutku itu adalah salah satu tulisan yang berguna dan menjadi peganganku saat mengakhiri dan bersiap mengawali hal yang baru, yaitu 1) Tujuan, 2) Kriteria pasangan, 3) Evaluasi diri.

Apakah masih relevan? Masih! Beberapa diantaranya, tapi mungkin beberapa lainnya akan aku update yang ternyata fundamental bagi aku yang akan menjalaninya.

  1. Tujuanku tetap sama. My stance is clear. Aku bukan mau berteman, aku bukan mau jalanin dulu, aku mau date to marry. Apakah ada hal yang perlu dibicarakan dan kurang dari standarku, ataukah memang sudah tidak bisa dibicarakan dan aku akan mengakhirinya. Untuk niat utama, alhamdulillah dengan yang sebelumnya, dia juga memiliki niat baik yang sama.
  2. Standar dan kriteria aku tetap sama. Sejujurnya yang sebelumnya sudah memenuhi 10/13 kriteria. Ini kriteria-kriteria yang aku tulis di 11 September 2024, sebelum bertemu dengannya:
    1. Baik ✅
    2. Sholeh (berbakti pada orang tua dan sholat 5 waktu) ✅
    3. Sekufu (sama-sama punya pendidikan tinggi, dari lingkungan dan background orangtua yang setara, ada kesamaan hobby) ✅ hobby ❌pendidikan/lingkungan/background orangtua
    4. Keluarga (terutama mertua) yang baik ✅
    5. Humoris dan cocok dengan jokes aku ✅
    6. Ganteng yang karismatik ✅
    7. Tinggi (173-up) ✅
    8. Komunikasinya nyambung ✅
    9. Mau saling belajar ✅
    10. Romantis untuk aku yang susah romantis ✅
    11. Lebih peka, dewasa, care, penyabar ,tanggap, lembut hatinya (memenuhi love language)✅ peka-care-tanggap ❌dewasa/penyabar, ❌lembut hatinya
    12. Royal (tidak perhitungan) dan ada sisi provider ✅
    13. Ridho Allah (Ridho orang tua) ✅→❌mama

Evaluasiku mengenai kriteria yang tidak terpenuhi:

  1. Aku baru memahami arti sekufu secara lebih luas. Ini bukan hanya soal pendidikan/background keluarga/lingkungan, tetapi lebih luas lagi. Sekufu ketika cintanya juga setara. Soal cinta, aku rasa mendapatkan kasih sayang yang sama2 effort dan tidak membuat satu atau yang lain merasa kesepian✅
  2. Pendidikan ternyata menjadikan kita satu sama lain untuk berbenah dan upgrade diri. Bagi aku dan dia, pendidikan adalah hal yang sama-sama masih kita kejar. Dia masih meniatkan diri untuk mengambil sekolah kopi dan S1, sedangkan aku juga masih mengejar S2.
  3. Lingkungan dan background keluarga sebenarnya cukup berat. Mengetahui bagaimana kehidupannya di kampung halamannya sangat berbeda dengan yang terjadi di perantauan (mamanya, ayah sambungnya, adiknya, kakaknya, rumahnya, dan problematika kehidupannya). Tapi balik lagi, ternyata itu hanya gengsi semata. Justru semua itu bergantung dari bagaimana sikap dia memperlakukanku di mata keluarganya. Sejauh ini, dia tidak pernah melibatkan aku dalam masalah-masalah keluarganya. Dia selalu menghadapinya sendiri. Dia tidak takut menceritakan permasalahan keluarganya padaku hanya agar ceritanya didengar, bahu untuk bersandar atau dia butuh dikuatkan, tapi tak pernah menyeretku masuk dalam permasalahan di keluarganya. Namun, aku selalu dilibatkan dalam ramah tamah/tegur sapa bila dia dan keluarganya sedang saling berkabar ✅
  4. Sayang sekali, berakhirnya hubungan kami karena dia tidak memenuhi kriteria ini. Kriteria yang ternyata harus kutetapkan sebagai kriteria fundamental, yaitu dewasa/penyabar/lembut hatinya. Atau, bisa aku ganti dengan memiliki emotional intellegence dan regulasi emosi yang baik. Sikap ini bukan hal yang bisa disadari dari awal dan cenderung datang bersama masalah dalam hubungan. Bagaimana reaksi dan cara untuk menyelesaikan masalah menjadi poinnya. Selama ini masalah diselesaikan dengan emosi yang berlarut-larut daripada mencari solusi dan jalan keluarnya. Pada awalnya, aku juga memiliki pendirian untuk mengalah dan sabar, tapi lama kelamaan aku juga merasa terlalu berlebihan dan cenderung menguras baterai sosial dan kesabaranku. Perasaan emosi yang disertai dengan kasar secara verbal itu juga melukai batinku. Saat itu aku merasa kalau aku sudah tidak memiliki rasa aman lagi bersamanya. Luka batinnya tidak diobati (lukanya yang sudah lama disana dan lukaku yang baru-baru saja terjadi karenanya). Menurut aku, sama saja, ketika kamu merasa regulasi emosimu sudah baik dan merasa ZEN lalu bertemu orang yang berlarut-larut dalam emosinya, kamu hanya tinggal menunggu waktu untuk menjadi seperti dia. Kembali berlarut-larut dalam emosi juga. Analoginya: ketika ada daun mint sudah memiliki bercak coklat, apa yang harus dilakukan agar bercak coklat itu tidak merambat ke daun lainnya yang masih hijau? You should cut off that yellow leaf. (Catatan: hubungan kami berakhir, proses melepaskan satu sama lain yang lumayan panjang dan pada akhirnya dia juga melepaskanku. Ini akan menjadi cerita tersendiri, mungkin dengan judul level mencintai tertinggi menurutku)
  5. Ridho Allah adalah ridho orang tua. Pertemuan kami cukup singkat hingga akhirnya dia datang ke rumahku untuk menyampaikan niat baiknya. Untuk ukuran laki-laki jaman now, tentu saja itu langka dan pendekatan yang berani (nekat juga). Namun setelah kriteria fundamental yang tidak bisa terpenuhi itu, akhirnya hati mama tidak bisa kembali percaya secara utuh. Menikah bukan hanya menikahi orangnya saja, tapi menikahkan keluarga juga.

Tidak afdol kalau hanya evaluasi pada pasangannya saja tanpa evaluasi diri sendiri:

  1. Dari segi spiritual, aku merasa masih kurang ibadah dan tirakat kepada Allah SWT untuk ditunjukkan jodoh dunia dan akhirat. Aku merasa, ketika sudah memiliki calon maka hidupku sudah aman. Harusnya aku menambah effort menjadi 2x lipat, effort mencintai dan tetap berusaha mendekatkan diri kepada Allah, serta effort untuk mencintai hamba yang dicintai Allah.
  2. Aku kurang berdoa untuk melapangkan dan melembutkan hati aku. Berhenti untuk mencari orang yang bisa melembutkan hatimu. Berhenti untuk merasa itu tanggungjawab orang lain atas sikap kurangmu. Hatimu lembut karena kamu memang sudah bisa selesai dengan dirimu sendiri dan atas izin Allah juga. Begitu juga, sikap keras kepalamu adalah tanggungjawabmu sendiri bukan karena belum menemukan orang yang bisa meredakan sikap keras kepalamu.
  3. Selain itu, jangan lupa selalu bangga terhadap progresmu, progres pasanganmu, pencapaianmu, pencapaian pasanganmu, kerjaanmu, kerjaan pasanganmu, kesukaanmu, kesukaan pasanganmu. Abadikan banyak momen yang dilalui meskipun ada/tidaknya hari istimewa. Jangan sampai kamu merasa menyesal tidak mencintai dengan benar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gift For a Friend - Explosion Box :) #1

Okee.. Sebenernya penulis mau posting kemaren, cuman kemaren itu penulis kecapekan terus ketiduran. Wassalam deh, Ekhem, penulis curhat bentar ya pemirsaa :) Gini, kemaren itu otak penulis butek banget, pagi-pagi udah nangis gak karuan, udah lempar barang sana sini *wush, jangan nyangka penulis yang nggak-nggak ya* akhirnya, penulis mutusin untuk merenung... Penulis merenung cukup lama, ya sekitar 30 menit an. Terus penulis berfikir matiin hape *padahal sempet banting hape juga sih, tapi hape gak mati-mati, ya udah tak matiin* :D disitu penulis diem, mikir tapi gatau mikirin apa #jeddeeer :D Penulis emang sebelum liburan udah bikin jadwal mau kreasi sesuatu, tapi gak jadi soalnya ada itu. Dan itunya gak jadi, ya udah penulis berniat seperti yang awal. *itu-gak usah dipikir ya teman* Nah, penulis buka Laptop, buka gugel, keyword : how to make 3D book , terus nemu video cara pembuatannya. Tak liatin sama penulis. Loh! Itu kok malah video gimana bikin 3D paper -_- tapi lum...

Tentang meeting proposal seseorang yang ‘Meh’

Hello , Udah lama gak nulis-nulis di blog. Hari ini penulis dituntut untuk reborn  yang mirip udang rebon kayaknya. Jadi setidaknya mari menorehkan beberapa goresan keyboard pada blog yang lama usang ini. Penulis akan memulai dari judulnya yaitu tentang meeting proposal seseorang yang ‘Meh’. Meeting proposal dengan topik perubahan status … hidup dan mati ( self-claimed penulis). Kalau penulis udah tulis di Matriks Eisenhower ( Priority Matri x) pasti akan ada di pojok kiri dengan simbol menyalahh πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯ highly urgent and highly important . Penulis bener-bener investasi dalam hal ini, long-term . Ini juga highly sensitive . Pokoknya apapun dikasih embel-embel highly. Sebenarnya yang perlu penulis sadari adalah bagaimana orang lain memiliki prioritasnya sendiri dan bagaimana hal ini menurut orang tersebut tidak benar-benar seperti bumi sedang kiamat (ya penulis juga ga melihat sampai sana, tapi coba bayangkan seperti itu). Mungkin seseorang itu akan menempatkan pada kuadran terjad...

Pak, aku ngefanssss!!! :DD

Halooo! Penulis mau curhat pemirsa... Hmm, seperti biasa, TKPnya di bis . Ternyata bis itu jadi tempat paling menginspirasi sedunia menurut penulis. Sebelumnya, penulis juga seneng bisa jalan-jalan ke sin-sin terus dapet diskon :DD #ke TKP cepetannn!! Kali ini penumpang bis sungguh menginspirasi. Ada yang lagi galau *colek seseorang* :D, ada yang dari China. Jadi mereka ngomongnya pake bahasa China. Dan menurut penulis inspired banget, sepengalaman penulis naek bis, jarang ada orang China yang ngomong-ngomongnya pake bahasa China. Duduknya pun kayak orang China *duduk bersila :D* Waawawaa... Tapi bukan dari situ si penulis merasa terinspirasi.. Yaituuuuu Penasaaraaaannn???